Kisah Seorang Perempuan yang Mengubah Dunia Bagian 2

Suatu hari pada saat jam istirihat, Deva dipanggil oleh Kepala Sekolah, bahwa Deva akan mendapatkan Beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Tertinggi, karena Siswi tercerdas dan jenius di sekolahnya,dan universitas itu tempatnya jauh dari tempat tinggalnya, Deva pun sangat senang,"Tapi, berarti aku meninggalkan Garit sahabatku ?!"Bicara dalam hati. Deva ingin menemui Garit dan berbicara dengannya. Dia ragu, "Kenapa aku meninggalkan Sahabat terbaikku?!" Kata Deva dalam hati. Saat jam pelajaran baru dimulai Deva pun masih ragu ragu untuk membicarakan itu. Hingga jam pulang pun tiba.


Deva memutuskan untuk mengirimi surat kepada sahabatnya itu. Isi dari surat itu berisi tentang bahwa setelah Deva lulus dia akan pergi menuju kota untuk melanjutkan ke univesitas. Garit setelah membaca surat itu, dia menangis menurutnya tidak sahabat yang sebaik dan berhati lembut seperti dia.

Hingga hari kelulusan pun tiba. Deva ingin mengucapkan kepada Garit salam perpisahan, itu juga terjadi pada Garit yang ingin mengucapkan salam perpisahan kepad Deva. Setelah upacara hari kelulusan selesai Deva langsung pulang ke rumahnya, dirumahnya Deva bersiap - siap untuk melanjutkan kuliah. Tiba - tiba Garit pun datang dengan membawakan hadiah untuk Deva,"Ini, adalah hadiah perpisahan untukmu." Kata Garit, Deva pun terkejut, karena Deva belum pernah sebelumnya orang memberikan hadiah kepadanya. "Terima Kasih, maaf, aku tak bisa memberikan hadiah perpisahan kita." Kata Deva. "Tidak apa - apa kok." Jawab Garit dengan tenang. Keesokan harinya Deva sudah bersiap untuk berangkat menuju perkuliahannya. Tiba - tiba Garit datang untuk mengantarkan Deva dengan kendaraannya. Dengan ini adalah pertemuan terakhir mereka berdua.

Setelah sampai di stasiun kereta, Deva turun dari kendaraan Garit, Deva terkejut ketika Garit tiba tiba memeluknya dengan sambil menangis, dikarena ini adalah pertemuan terakhir mereka. "Garit apa.....?!" Deva terkejut. "Ini, adalah pelukan pertama dan terakhir kita bertemu dan semoga kita dapat bertemu lagi." kata Garit sambil bersedih. Setelah melepaskan pelukannya, Deva pun berangkat menuju kereta."Semoga kita bertemu lagi." Harapan Deva berbicara dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar